Candi Bahal Portibi, Peninggalan Sriwijaya di Sumatera Utara | Liputan 24 Sumatera Utara
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Candi Bahal Portibi, Peninggalan Sriwijaya di Sumatera Utara

Posted by On 5:46 PM

Candi Bahal Portibi, Peninggalan Sriwijaya di Sumatera Utara

Cerita Pagi

Candi Bahal Portibi, Peninggalan Sriwijaya di Sumatera Utara

Rusman Siregar

loading...
Candi Bahal Portibi, Peninggalan Sriwijaya di Sumatera Utara
Candi Bahal I dianggap sebagai candi utama karena bangunannya relatif lebih besar dari dua candi lainnya. Candi ini merupakan peninggalan kejayaan Sriwijaya di Sumatera Utara. Foto/SINDO/Hasiholan Siahaan
A+ A- Di Tapanuli bagian Selatan tepatnya di Padang Lawas Utara terdapat bangunan candi yang bernilai sejarah. Candi ini merupakan satu-satunya peninggalan kejayaan Sriwijaya di Sumatera Utara.
Orang menyebutnya Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi. Bangunan peninggalan Bud dha aliran Vajrayana ini terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara, sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Padangsidimpuan atau sekitar 420 km dari Kota Medan, ibukota Sumatera Utara.
Dilansir dari pedomanwisata.com, Candi Bahal atau Portibi ini diperkirakan telah ada selama ribuan tahun. Ada yang menyebut candi ini dibangun oleh Raja Hindu Shiva dari Tamil yang memerintah dari India Selatan. Namun, pakar lain mengatakan keberadaan candi ini terkait dengan Kerajaan Pannai yang merupakan eksistensi kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-11.
Bahal sendiri diambil dari nama desa setempat. Sedangkan Portibi, dalam bahasa etnis Batak setempat, berarti dunia atau bumi. Dengan demikian, candi ini punya nama khusus dan unik sebagai Candi Dunia.
Para ahli mengungkapkan tiga bangunan candi yang ditemukan di Bahal merupakan bagian dari 26 candi yang tersebar di Padang Lawas Utara, T apanuli bagian Selatan. Karena lokasinya yang berada di tengah lapangan luas, masyarakat setempat sering menyebut Candi Padang Lawas atau "Candi di Lapangan yang Luas".
Kompleks Candi Bahal terdiri dari tiga candi yang berjarak sekitar 500 meter. Beberapa kilometer dari Candi Bahal, juga ditemukan Kompleks Candi Pulo. Kompleks Candi Bahal terletak di tepi Sungai Batang Pane.
Candi Bahal Portibi, Peninggalan Sriwijaya di Sumatera Utara
Beberapa teori menunjukkan bahwa Sungai Batang Pane pernah menjadi jalur transportasi yang ramai dengan aktivitas ekonomi. Namun, saat ini sungai telah tertimbun lumpur dan nyaris tidak bisa lagi menampung kapal perdagangan.
Juga dikenal sebagai Biaro oleh masyarakat setempat, Kompleks Candi Bahal dikenal sebagai kompleks candi terbesar di Sumatera Utara. Semua candi, Candi Bahal I, Candi Bahal II, dan Candi Bahal III, dibangun dengan menggunakan bat u bata merah, sementara patung-patung diukir dari batu pasir.
Masing-masing candi dikelilingi dan tembok bata setebal 1 meter dan setinggi 1 meter. Pintu gerbang terletak di sisi timur dan memanjang ke luar dengan tinggi dinding 60 cm di kedua sisinya. Di tengah masing-masing daerah berdiri candi utama dengan pintu masuknya menghadap gerbang.
Kompleks ini berpusat di sekitar Candi Bahal I, yang dianggap sebagai candi utama, dan relatif lebih besar dari dua candi lainnya. Arsitektur candi ini mirip dengan candi Jabung yang terletak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Secara umum, candi terdiri dari pondasi, kaki, badan, dan atap, dan diletakkan di atas dasar persegi panjang sekitar 7 meter persegi.
Candi Bahal Portibi, Peninggalan Sriwijaya di Sumatera Utara
Di antara pakar terkemuka yang telah melakukan penelitian di Kompleks Candi Bahal adalah Franz Junghun (1846), Von Rosenberg (1854), Kerkhoff (1887), Stein Callenfels (1920 dan 1925), De Haan (1926), Krom (1923), dan juga FM Schinitger yang diketahui telah mempelajari dan menjelaskan banyak sisa arkeologi sejarah Sumatra.
FM Schinitger adalah seorang Arkeolog Jerman yang melakukan penelitian di kompleks candi pada tahun 1935 berdasarkan Tablet Tanjore yang menggunakan Bahasa Tamil, dan konon dibangun oleh Raja Coladewa dari India Selatan pada tahun 1030.
Schinitger percaya bahwa menurut catatan penjelajah Cina, I-Tsing, raja dikatakan telah menaklukkan tanah Pannai. Melalui penelitian lebih lanjut, Schinitger menyimpulkan bahwa kompleks candi harus terkait erat dengan Buddhisme Vajranaya yang sedikit berbeda dengan Buddhisme seperti yang diketahui saat ini. halaman ke-1 dari 2
  • 1
  • 2
Sumber: Berita Sumatera Utara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »