GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Prof Anwar Nasution : Indonesia Masih Negara Pengemis

Prof Anwar Nasution : Indonesia Masih Negara Pengemis

Guru Besar Fakultas Ekonomi UI Prof Anwar Nasution (tengah) diabadikan bersama Rektor Unpab Dr HM Isa Indrawan SE MM (keempat dari kiri), Rektor II Dra Hj Irma Fatmawati SH MHu…

Prof Anwar Nasution : Indonesia Masih Negara Pengemis

Guru Besar Fakultas Ekonomi UI Prof Anwar Nasution (tengah) diabadikan bersama Rektor Unpab Dr HM Isa Indrawan SE MM (keempat dari kiri), Rektor II Dra Hj Irma Fatmawati SH MHum, Dekan FEB Rahmat Hidayat SE MM, dan Staf Ahli Rektor Heru Tony, sesaat sebelum kuliah umum di Kampus Unpab/ist

MEDAN (medanbicara.com)-Guru Besar Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Anwar Nasution mengatakan, selama Indonesia belum mampu meningkatkan tabungan nasional dan penerimaan negara dari pajak, negara ini masih akan tetap menggantungkan diri pada perolehan hibah dan pinjaman luar negeri.

“Sejak mulai merdeka 72 tahun lalu hingga saat ini, Indonesia masih merupakan negara pengemis dan peminjam di dunia internasional,” kata mantan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI) ini saat menyampaikan kuliah umum di Kampus Universitas Pembangunan Panca Budi (Unpab), Jalan Gatot Subroto Km 4,5 Medan, belum lama ini.

Kuliah umum bertajuk “Jalur Sutra Republik Rakyat Tiongkok dan Dampaknya bagi Indonesia” ini dibuka secara resmi Rektor II Unpab Dra Hj Irma Fatmawati SH MHum. Kuliah umum dihadiri Rektor Unpab Dr M Isa Indrawan SE MM, Direktur Program Pascasarjana (PPs) Unpab Drs Kasim Siyo MSi PhD, Dekan FEB Unpab Rahmat Hidayat SE MM, Ketua Prodi Ekonomi Pembangunan Saimara Sebayang SE MM, Staf Ahli Rektor Heru Tony, para dekan, ketua prodi, dosen dan mahasiswa di lingkungan Unpab. Kuliah umum dipandu dosen FEB Unpab Bachtiar Effendy.

Menurut Anwar, inisiatif Republik Rakyat Tiongkok (RRT) akan memengaruhi perdagangan, sektor industri manufaktur, dan turisme Indonesia. Turis dan penduduk RRT akan semakin banyak berkunjung dan bekerja di Indonesia.

“Pasar keuangan RRC yang semakin terbuka, ditambah dengan didirikannya lembaga-lembaga keuangan baru, akan semakin mudah bagi Indonesia mendapatkan santunan dan kredit dari RRT. Tapi pinjaman itu akan terus menjadi beban berat Indonesia,” kata mantan Ketua Badan Pengawas Keuangan (BPK) RI ini.

Beban pinjaman luar negeri itu, tambahnya, semakin berat karena sejak tahun 2004, pinjaman pemerintah Indonesia semakin beralih pada pinjaman dari pasar modal dalam negeri dan luar negeri dengan persyaratan komersial.

“Hanya pemerintah Jepang yang bersedia memberikan jaminan atas Surat Utang Negara (SUN) Republik Indonesia agar laku dijual di negaranya. SUN yang dijamin oleh pemerintah Jepang itu disebut sebagai Samurai Bonds,” tambah mantan Dekan FE UI ini.

Anwar kemudian menyarankan Presiden Joko Widodo agar meniru RRT yang mampu membina rakyatnya menjadi produsen. Dia mencontohkan, Indonesia pengirim jemaah haji dan umrah terbesar di dunia, tetapi semua jemaah itu langs ung berganti pakaian haji buatan RRT setelah mendarat di pelabuhan udara di Jeddah.

“Kecuali warung-warung kecil, tidak ada restoran Padang, Kudus, Banjar maupun Coto Makassar di Tanah Suci. Ironisnya, jemaah umrah dan haji Indonesia di Arab Saudi justru jadi konsumen produk RRT. Mulai dari tasbih, kerudung, kopiah hingga sajadah, semuanya produk RRT yang dibeli jemaah Indonesia untuk oleh-oleh,” ungkap pria kelahiran Sipirok 1942 ini.

Lulusan Harvard University Amerika Serikat ini menambahkan, pemerintah Indonesia tidak salah meniru Malaysia. Pantai Timur Pulau Sumatera dan sekeliling Pulau Kalimantan dan pantai Barat Pulau Sulawesi dan sepanjang Laut Arafura di Papua dapat dibangun untuk memanfaatkan Jalur Sutra.

“Penang mampu mengembangkan diri menjadi salah satu pusat elektronika terpandang di seluruh dunia. Semua garis pantai di sepanjang Selat Malaka mulai dari Penang hingga Johor, menjadi kawasan industri yang mengolah bahan baku dengan buruh kasar yang didatangkan dari Indonesia. Semua garis pantai di pantai Timur Sumatera dan sekeliling Kalimantan dapat dijadikan itu dapat dijadikan sebagai pengolahan sumber daya alam yang ada di daerahnya masing-masing dan pusat kawasan industri untuk keperluan ekspor melayani pasar yang sangat besar di Asia Timur,” sarannya.

Sementara itu, Rektor II Unpab Dra Irma Fatmawati, SH MHum dalam sambutannya saat membuka kuliah umum itu mengatakan, Jalur Sutra merupakan jalur perdagangan menghubungkan antara Timur dan Barat yang berdampak pada ekonomi global saat ini.

“Dengan kuliah umum kami berharap menambah wawasan mahasiswa khususnya FEB Unpab agar ke depan mampu membangun Indonesia khususnya Sumut,” kata Irma.

Sebelumnya, Ketua Panitia Saimara Sebayang menyampaikan apresiasi atas antusias mahasiswa mengikuti kuliah umum itu, sehingga ruangan yang disediakan tak mampu menampung mahasiswa. “Mahasiswa ini sangat semangat ingin mendengar kuliah umum Profesor Anwar Nas ution,” kata Saimara yang juga Ketua Prodi Ekonomi Pembangunan FEB Unpab. ( eko fitri)

ShareSumber: Google News | Liputan 24 Sipirok

No comments